oleh

Kematian Hendrikus Hendra, Intruksi Kapolri Belum Menyentuh ke Bawah Secara Keseluruhan

Saat pembongkaran makam Hendrikus Hendra untuk keperluan otopsi” Senin 25/10/21, sekira pukul 9.wib. foto: Nisaa untuk Silabusnews.com

Silabusnews.com,Kalbar, Sanggau – Sulitnya mendapatkan keadilan acapkali digaungkan oleh masyarakat kecil. Dewasa ini masyarakat menaruh harapan besar akan tegaknya supremasi hukum dibawah kepemimpinan Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Santi An’nisaa, wanita asal Kabupaten Mempawah yang menikah dan berdomisili di Jakarta sangat berharap penuh kepada Kapolri, dimana keluarga besarnya merasa ada perlakuan yang tidak adil dan penuh kejanggalan atas kasus kematian saudaranya Hendrikus Hendra, yang diketahui meninggal secara tidak wajar.

Kematian Hendrikus Hendra yang kerap di sapa Aphin di duga meninggal karena adanya kekerasan.

Guna mencari keadilan Nisaa membawa kasus tersebut ke jalur hukum dengan melaporkannya ke Polres Sanggau sebagai wilayah hukum tempat kejadian perkara pada tanggal 17 oktober 2011. Kemudian pada tanggal 19 Oktober Nisaa juga mengajukan permohonan otopsi, serta dilakukan pembongkaran makam saudaranya guna kepentingan otopsi pada Senin (25/10/2021) sekira pukul 09.00Wib oleh Tim Inavis Polda Kalbar bersama Sat Reskrim Polres Sanggau. namun perjuangan Nisaa tak kunjung membuahkan hasil.

Nisaa beserta keluarga berkali kali meminta hasil otopsi namun dari pihak penyidik Reskrim Polres Sanggau terindikasi seolah menutupi fakta dibalik hasil otopsi.

” Kasus ini seakan ditutupi, kematian Abang kami sangat tidak wajar dan telah dilakukan otopsi, namun hingga hari ini kami tidak diberitahukan apa hasil otopsinya. Kami merasa kecewa karena saat kami bertanya akan hal itu, seperti saling lempar dan tidak ada kejelasan,” ungkap Santi melalui telepon WhatsApp kepada awak media ini Jumat(03/12/2021).

Nisaa menuturkan pada jenazah dibagian bawah dagu lingkar leher ditemukan tanda bekas jeratan yang diduga karena kekerasan, dalam mulut ada luka serta ditangan jenazah Hendrikus Hendra.

Kematian Hendrikus hendra yang penuh kejanggalan bukan karena Covid atau serangan jantung seperti yang di terangankan istri korban pada saat itu, karena selama ini korban sehat dan tidak ada sakit.

Kecurigaan Santi An’nisaa dan keluarga timbul ketika beberapa kejanggalan terhadap prosesi pemakaman yang dipaksakan harus segera dan ada beberpa baju dan barang milik korban yang ditanyakan kepada istri dan anak korban dikatakan sudah hilang.

Dari hal itu, Santi tidak tinggal diam dengan kecurigaan nya mencari tahu sebab kejadia dan ditemukan rekaman CCTV yang penuh kejanggalan dan sikap istri korban yang begitu mencurigakan karena begitu dingin dan menolak proses hukum untuk mencari sebab kematian suaminya Hendrikus Hendra.

Santi An’nisaa justru dimusuhi oleh istri korban serta anak laki – laki pertama Korban Hendrikus Hendra karena terus mencari tahu sebab kematian.

Kepala Divisi Hukum dan HAM Emri Tua Sinaga, S.H dari Lembaga Investigasi Negara yang mendampingi Santi An’nisaa di ruang Wassidik Reskrimum Polda Kalbar saat gelar perkara meminta, agar pihak Polda maupun Polres Sanggau untuk terus melakukan penyelidikan agar perkara kematian Hendrikus Hendra menjadi terang, yang sudah diketahui jelas karena kekerasan.

Media ini konfirmasi kepada Kapolres Sanggau AKBP Ade Kuncoro terkait kasus tersebut, mengatakan agar di konfirmasi ke Kasat Reskrim karena sedang ada giat di Polda.

“Silahkan konfirmasi ke Kasat reskrim lgs ya.
Saya lg giat di polda,” kata AKBP Ade Kuncoro via Sambungan WhatsApp Jumat(03/12/2021).

Kasat Reskrim Polres Sanggau AKP. Tri Prasetyo dikonfirmasi hingga berita ini di tayangkan belom ada memberikan jawaban.

Apa yang terjadi terkait kasus tersebut jauh dari harapan seperti ungkapan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo saat menyampaikan sambutan pada

Masih dalam sambutannya, Kapolri menyinggung transformasi menuju Polri Presisi. Terkait hal itu mantan Kabareskrim ini menekankan bahwa hal itu bisa menjadi upaya untuk menjawab tantangan masyarakat yang mengharapkan Polri lebih baik. Disamping itu, transformasi perubahan adalah sebuah keharusan sebagai organisasi modern.

Dari evaluasi pencapaian transisi menuju Polri Presisi, Kapolri melihat kuantitas capaian sudah cukup bagus. Dimana rata-rata di atas 95 persen. Meski secara kuantitas positif, Ia mengharapkan agar kualitas dari program-program yang dibuat serta inovasi yang dilakukan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Karena jargon salam Presisi tidak hanya berhenti sampai disitu. Tapi gimana kemudian salam Presisi betul-betul dirasakan di hati masyarakat,” ucap Sigit.

Oleh sebab itu, dalam kerangka ini Kapolri meminta agar seluruh jajarannya menghindari tindakan-tindakan kontraproduktif yang berdampak kepada organisasi. Untuk itu, lanjut Kapolri, oknum-oknum yang manfaatkan situasi sehingga mencemari dan menciderai, ia mengingatkan agar mereka menghormati komitmen personel lain yang sudah bekerja dengan baik.

“Artinya secara kuantitas turun, namun hanya beberapa peristiwa pelanggaran yang kemudian diviralkan maka kepercayaan publik ke kita langsung turun,” kata Kapolri.

Kapolri mengingatkan sekali lagi, bahwa transformasi perubahan mutlak harus dilakukan dan menjadi arus pikir bersama seluruh personel. Pasalnya, kata dia, Polri sebagai organisasi besar harus menyesuaikan dengan kondisi dan keadaan ditengah perkembangan zaman.

Senin (06/12/2021) kembali media ini konfirmasi kepada Kapolres Sanggau AKBP Ade Kuncoro, mengarahkan agar di koordinasikan dengan Kasat Reskrim.

” Koordinasi dengan Kasat,” ucap Kapolres singkat.

kemudian awak media konfirmasi lagi ke Kasat Reskrim AKP Tri Prasetiyo melalui sambungan WhatsApp tidak dijawab.

Penulis : AM

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.