oleh

Jembatan Ambruk Aktifitas Warga Terhambat

Kondisi jembatan yang Ambruk di Dusun Tamang Hilir RT 01/ RT 02/ RW 03″ Kamis 17/3″ foto Novi silabusnes.com

Silabusnews.com, Kubu Raya – Jembatan Penghubung utama  RT. 01/ RT. 02 RW. 03 Dusun Tamang Hilir, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Ambruk aktifitas masyarakat sekitar macet total . Pasalnya jembatan tersebut merupakan jembatan satu satunya jalan akses untuk menunjang perekonomian masyarakat.

Pada hal Jembatan  tersebut baru dibangun  November 2021 lalu Dengan Dana APBD Kabupaten Kubu Raya dengan Mekanisme PL (Penunjukan Langsung) senilai 93.000.000;'( sembilan puluh tiga juta rupiah ) yang di kerjakan oleh Ketua BPD ( badan pengawas desa ) Gunung Tamang – Kecamatan Sui Raya jembatan itu sudah dua kali di perbaikan akan tetapi masih juga mengalami kerusakan.

Berdasarkan Permendagri 110 tahun 2016 jelas disebutkan, bahwa BPD berkewajiban melakukan pengawasan kepada kepala desa,  BPD dilarang main proyek. hal ini jelas berlawanan dengan regulasi yang ada, sama hal nya apa yang tertuang di Undang-Undang Desa dan Permendagri 110/2016 tentang Badan Permusyawaratan Desa. Tindakan diatas jelas tidak di perbolehkan.

Undang-Undang Desa nomor 6 tahun 2014 pasal 64 huruf (a), (b), (c) dan (g), juga melanggar Permendagri 110 tahun 2016 pasal 26 huruf (a), (b), (c) dan (g) yang menjadi larangan anggota BPD.

Hasil investigasi awak media ini di lapangan Papan plang  Pagu Dana Proyek Pembangunan Jembatan tersebut juga tidak ada. Ketika awak media ini mempertanyakan kepada masyarakat setempat juga tidak mengetahui kapan Plang Pagu Dana tersebut di lepas.

Sinjan Tomas Selaku Wakil Ketua BPD Dusun Tamang Hilir ketika di temui Kamis 17/3, mengatakan” Pemborong  jembatan tersebut  ketua BPD.

Terkait dengan robohnya jembatan ini terus terang saya marah dengan konsultan dan Pak kades, karena sungai ini di perkecil,  kayu yang ada di sini dahulunya ada tapi di bongkar maka jadilah seperti sekarang  sesuai gambar yang di kerjakan.

Lanjut sinjan  ketika musim banjir dan penghujan  bangunan ini pasti akan roboh. Karena menurut ukuran PU Kayunya ukuran 10×10 tapi kalau kita lihat Kayu nya tidak sampai Dan paling tinggi kayunya 9×9. Kami tidak tahu kenapa ada pengurangan, baik masalah bahan Ataupun yang lain nya saya kurang tahu, hanya pelaksana kerja yang tahu” terangnya.

“Terkait pengecilan sungai kita ada di musyawarah kan, saya minta kemarin kalau ada konsultan ataupun orang PU yang datang kita itu di libatkan, biar kita juga tahu jelas ini dasarnya.

konsultan maupun CV Nya kita juga tidak tahu. Setelah tiga hari pengerjaannya baru saya di libatkan dan kita membantu karena kita juga masyarakat.” Ujar nya.

Untuk anggaran yang ada sebenarnya 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) namun di plang nya hanya 93.000.000 ( sembilan puluh tiga juta rupiah ) kemudian ada pemotongan lagi tinggal 68.000.000 ( enam puluh delapan juta rupiah )”. Katanya.

Kami juga pernah koordinasi dengan Kades termasuk saya sendiri kita minta bantuan sama pihak perusahaan agar jembatan yang ada ini di robohkan dahulu dan kita buat seperti dahulu saja agar masyarakat bisa lewat. Informasi nya kemarin dalam Minggu ini akan di kerjakan, Jangan sampai aset ini tidak bisa di lewati masyarakat,” Tegas Sinjan.

Lanjut Sinjan untuk pengerjaan jembatan ini sekitar bulan November 2021 dan rusaknya sekitar Desember 2021 namun tidak separah ini, masih bisa di lewati masyarakat.

Paling parah awal Maret ini. Karena jembatan ini sudah dua kali roboh semasa pengerjaan nya dan sudah dua kali di betulkan dengan anggaran yang sama” ujar sinjan.

Di waktu yang berbeda Kepala Dusun Tamang Hilir Margaretha Ernawati juga menyikapi terkait ambruk nya jembatan itu ia mengatakan” pertama sungai itu lebar, menurut dari dinas kabupaten sungai ini lebar di lalui oleh masyarakat dengan menggunakan kendaraan, kemudian di perkecil menjadi empat meter jadi seperti nya memang tidak sesuai.

Kemudian dilaksanakan dengan anggaran 100.000.000 ( seratus juta rupiah ) di duga pemangkasan anggaran seperti nya memang tidak mencukupi. Ketika kami melakukan musyawarah dusun kami meminta untuk pembangunan jembatan yang permanen. Tau-tau tidak sesuai dengan anggaran dana dengan keadaan alam.

Jika mau menggunakan kayu setidaknya tidak menggunakan kayu yang kecil. Kalau untuk sekarang kan kayunya kecil. Paling tidak seharusnya kemarin kayu 20×20, kontraktor nya Ketua BPD.

Saya juga sudah konfirmasi denga Kepala desa dan mereka akan melakukan kerja sama dengan pihak perusahaan sawit. PT. Alas Kusuma dengan menggunakan CSR dan pihak perusahaan juga mau membantu.

Saya juga berbicara dengan Ketua BPD agar ini segera diselesaikan dan yang penting kendaraan bisa lewat. Contoh nya bagi masyarakat yang memiliki usaha dirumah. Ketika mobil mereka tidak bisa lagi bisa sampai ke rumah mereka. Jadi mereka susah harus estafet,  Jika ditambah lagi dengan estafet jadi mereka harus menambah harga pembelian. Dan mereka juga berpatokan disitu juga, jadi susah dan terhambat” Katanya

Dan disini juga ada masyarakat yang bekerja sawit, mereka harus bangun subuh-subuh untuk berjalan kehulu. Intinya kami mau jembatan itu dibangun permanen. Untuk lebarnya 4 meter saja yang penting panjangnya 20 meter”, ujar margareta.

“Kita kasihan melihat ibu-ibu yang menoreh kehulu sana. Dan mereka juga memiliki ladang dikaki bukit, dan ada ibu-ibu yang tidak bisa memakai kendaraan bermotor. Dan kendaraan tersebut di pakai anaknya, jadi mereka menggunakan sampan sedangkan mereka mau melalui jembatan tidak berani, karena takut ambruk” ujarnya.

Wardi Selaku Sekretaris Desa saat di temui di kantor Desa Gunung Tamang mengatakan”

Terkait Ambruk’nya Jembatan tersebut saya juga tidak tahu karena selaku pemborong adalah Ketua BPD.

Terkait kerja samanya dengan Kepala Desa memang mereka bekerja sama dan tidak mungkin pula Ketua BPD membelakangi, dan untuk anggaran jembatan tersebut saya juga tidak tahu, ujar wardi.

Untuk peninjauan dari pihak kabupaten saya juga tidak tahu apa sudah meninjau atau belum.

Sepengetahuan saya Sebenarnya tidak di  benarkan jika BPD mengerjakan proyek dan itu juga yang membuat saya bingung,  setiap ada anggaran dia yang mengerjakan. Ujarnya.

Dan untuk faktor ambruk nya jembatan tersebut itu saya juga kurang tahu, mungkin faktor alam dikarenakan tendangan arus dan sungai itu sudah di perkecil dan dahulu nya sungai itu besar.

sewaktu kami mengadakan Musrembang kemarin untuk pengajuan nya 6×20 meter tapi tahu nya yang datang itu tinggal 3×4 meter. Dan tongkatnya itupun 9×9″ katanya

Ambruk nya pun saya juga baru tahu sekarang, karena saya sudah lama tidak pernah kesana. Dan memang jembatan tersebut merupakan satu satunya jembatan yang untuk masyarakat lalui. Dan dahulu nya ketika masih jembatan kayu juga pernah Dan Truk yang lewat kesana, sekarang motor pun tidak bisa lewat kesana.

“Harapan saya agar jembatan tersebut di bangun kembali, supaya masyarakat bisa beraktivitas kembali seperti sedia kala. Dan harapan saya terkait anggaran masuk bisa di kerjakan sesuai prosedur” ujarnya

Andianus Pendi selaku Kepala Desa Gunung Tamang ketika ingin ditemui terkait ambruk nya jembatan tersebut,  beliau enggan  ditemui, hanya konfirmasi melalui via WhatsApp ia mengatakan”

Kejar PU nya Pak, itu runtuh juga karena alam, hujan deras dan arus sungai kuat.

Kalau jembatan yang dibangun sudah sesuai bestik konsultan, saya  seribu perak tidak ada dengan saya dan walau begitu kita sudah kondisikan mau betulkan, minta bantuan PT,Itu saja keterangan saya karena itu desa kami, gimanapun kami tetap perbaiki,ujar kades

Jika mau ketemu dengan yang membangun saya hanya ACC bukan pelaku kerja, baiknya tanya PU mereka punya CV” jawabnya

Ketika awak media ini mempertanyakan kebenaran akan plang yang di cabut” Pendi juga tidak merespon dan kami juga menanyakan CV dan anggaran nya berapa” Pendi juga tidak merespon. Dan ketika kami juga mempertanyakan Terkait apakah dibenarkan Ketua BPD mengerjakan jembatan tersebut” Pendi enggan untuk komentar dan mengirim kan No Hp Ketua BPD dan Pendi juga mengatakan” bahwa Ketua BPD orang dekat Pak Muda dan juga bukan kerja nya yang salah tapi faktor alam” Jawabnya

Di tempat terpisah Selvinus Sepin selaku Ketua BPD Desa Gunung Tamang Saat Di temui mengataka”.

Terkait ambruknya jembatan  dari pihak Desa sudah melaporkan ke Dinas, bahkan hari ini kita akan konsultasi dengan Dinas terkait.

Jembatan sudah saya buat sesuai dengan gambar yang di berikan PU ke kita, Dan untuk ambruk nya jembatan tersebut mengapa bisa terjadi demikian karena sungai di perkecil. Sekitar seminggu yang lalu ada hujan deras karena posisi sungai dalam keadaan di perkecil tendangan air dari bukit lebih besar, sehingga terjadilah terjangan diturap. Karena turap di dorong air otomatis tanah longsor sehingga tanah yang diatas juga longsor. Dan saya bekerja sesuai dengan gambar, kalau gambar 4 meter saya buat 4 meter, sedikit saja berbeda pembangunan dari kita PU pasti protes” katanya

Memang Konsultan tidak melibatkan saya pada waktu itu dan seharusnya beliau juga bisa mempertimbangkan karena sungai ini di perkecil. Kalau seandainya sebesar sungai itu kita bangun saya yakin tidak akan terjadi seperti itu, karena terjadinya ini karena terjadinya ini bukan karena teknis di lapangannya, pekerjaannya, memang alam, contohnya terkena dorongan air.

“Kita menancapkan tiang ini pakai Ekskafator/ Alat berat Beko, dorongan air masuk kesini kemudian tanah longsor, saya hanya kerjakan sesuai gambar .

Saat pekerjaan saya tidak ada mengurangi fisik, itu sudah sesuai dengan gambar tidak ada merubah ukuran kayu sama sekali, itu sudah sesuai dengan gambar” kata sipin sapaan akrab nya.

“Saya lupa cv apa yang mengerjakan nya, untuk anggarannya 99 juta yang saya terima 68 juta saja dan saya gak tau, apakah itu dari pajak pasti ada saya tidak tau, yang jelas yang saya kelola itu hanya 68 juta untuk pembangunan jembatan yang ada, dengan ukuran lebar 3 meter kali 4 meter, ukuran kayu 10×10 , tiang 4 baris, kemudian pakai turap, kita bekerja sesuai gambar” tuturnya

Lanjutnya mengatakan” Turapnya semua pakai belian ukuran papannya 15 cm. Dari dinas PU yang turun ke lokasi selaku PPK nya kalau tidak salah pak erwin, konsultan nya Pak heri. Untuk CV nya saya lupa karena saya gak punya CV, saya pribadi yang ngerjakannya.

Lanjut sipin kalau bicara masalah spek gambar saya sudah lakukan itu tapi karena ini betul-betul karena alam”.

Perencanaan nya pada waktu itu tidak melibatkan masyarakat setempat untuk menganalisis bagaimana pembangunan ini harus nya di lakukan di sini, saya mengerjakan begitu gambar ada saya kerjakan sesuai gambar.

“Kades pernah merekomendasikan untuk menggunakan 20×20 untuk tiangnya, itukan pakai 10×10 cuma menurut informasi entah bagaimana masalah anggaran mungkin tidak cukup kita tidak tahu juga.  BPD dan Kades pernah menyampaikan ke Dinas PU bahwa ini anggaran gak cukup, tanggapan pihak Dinas  saya gak tau karena itu intern Kades dengan orang Dinas saja” ucapnya

Saya tidak ingat bulan berapa pekerjaan awalnya, saya lupa karena pas kita mau kerjakan kita sudah siapkan material tapi banjir besar-besaran pada waktu itu akhirnya saya tidak bisa masukan material.

Kalau jembatan yang dulu itukan dikerjakan melalui CSR perusahaan makanya terjadilah penyempitan debet air sungai itu untuk mengantisipasi banyaknya tumpukan material maka di perkecil, yang kedua masalah material kayu besar-besar kalau terlalu panjangkan resiko, jadi dibuatlah sekitar 4 meteran makanya posisi sungai itu mungkin ada 10 meter, pada waktu dulunya belum ada pakai besi itu pakai kayu, Dengan robohnya jembatan ini untuk kedepan nya, kita sedang mau konsultasikan dulu”

“Dan hari ini kita mau konsultasi dulu bagaimana solusinya, bagaimana pun saya secepat mungkin untuk perbaiki karena itu akses masyarakat di sana dan saya bertanggung jawab. Karena terus terang ini bukan mutlak kesalahan saya sendiri selaku kontraktor tapi karena alam.

“Banyak isu yang beredar sekarang karena mereka hanya melihat yang diatas, karena yang di foto selama ini diatas, ambruk, otomatis orang sangkakan ini memang pondasinya.

Mengenai turap samping sehingga bisa keluar tanah nya itu karena posisi turap pada waktu awal pengerjaan belum ada debet air yang kuat tidak ada hujan deras pada waktu itu, itu sudah maksimal kita tancapkan dan tiang itu yang sekarang terlihat menggantung itu pakai heksa kita tekan, udah cukup maksimal kita, karena dorongan air maka terlihat menggantung,” jelasnya.

Untuk kedalaman tiang tengah itu dua tiang kita sambung,itu masuk nya sekitar 2 meter,dari laci itu satu meteran kita tekan sampai , pakai alas” ujarnya. (Novi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.