Setelah Kelapa, Kementan Pacu Ekspor Kulit Bakau Moro

0
7

Moro,Silabusnews.com –– Produk pertanian di Kepulauan Karimun kembali diekspor dalam skala yang cukup besar. Setelah kelapa sebagai komoditas andalan ekspor asal kepulauan ini, ada satu komoditi baru yang dapat menjanjikan pemasukan kas negara dan masyarakat melalui ekspor, yaitu kulit pohon bakau asal pulau Moro, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau.

Paska dilepas perdana ke Filipina oleh Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian di medio April 2019 yang lalu.  Komoditas ini kian menggeliat. “Program Agro Gemilang di Karimun mulai membuahkan hasil, menggiatkan pelaku agribisnis,  gali produk ekspor baru.  Selain kelapa, lalu kulit bakau, terus digali lagi apa yang bisa kita ekspor, kami siap kawal,” kata  Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil, Ph.D  saat melepas  22 ton kulit kayu bakau di Pulau Moro, Minggu (18/8).

Kepala Badan Karantina Pertanian ,Ali Jamil, Ph.D menjelaskan, pelepasan kali ini menggenapkan total ekspor kulit bakau dengan tujuan Filipina sebesar 131 ton. Pelepasan ekspornya melalui unit kerja karantina pertanian di Tanjung Balai Karimun.”Sesuai persyaratan ekspor negara tujuan, kami pastikan komoditas ini sehat, aman dan dapat penuhi persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS),” tambahnya.

Kulit  kayu yang tumbuh di kawasan pesisir itu dapat menghasilkan tanin untuk dimanfaatkan sebagai bahan penyamak. Selain itu kulit kayu pohon  bakau dapat dijadikan bahan pembuat kertas berkualitas tinggi. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa kulit kayu bakau juga bermanfaat bagi kesehatan, paparnya.

Sebelumnya, kelapa dan turunannya berupa air kelapa, bungkil dan juga dalam bentuk utuh jadi andalan komoditi ekspor dari pulau ini. Sepanjang tahun 2019 tercatat ekspor produk tumbuhan  sebanyak  1,100 ton senilai Rp. 43,8 miliar tujuan Malaysia.

Produk berupa  kelapa bulat, air kelapa, bungkil kelapa, kulit kayu bakau, alpukat, kencur, damar, kelapa bulat. Hal ini disampaikan Kepala Karantina Pertanian Tanjung Balai Karimun, Priyadi.

Sementara untuk komoditas dari bidang karantina hewan, hingga Agustus 2019, sarang burung walet berhasil diekspor ke Singapura dan Taiwan sebanyak 399 kg dengan nilai ekspor mencapai Rp 39 miliar. Selain itu madu tujuan Malaysia juga turut menyumbangkan devisa negara.

Potensi komoditas pertanian yang besar dan akses dekat dengan negara tetangga, pulau Moro  miliki peluang meraup devisa.  Dengan menjalin kerjasama bersama Pemda, khususnya dalam pemanfaatan peta aplikasi komoditas ekspor pertanian, IMACE yang digagas Barantan, dapat mendorong pembangunan pertanian berbasiskan kawasan.

Harapannya bisa mengikuti pulau Kundur, banyak komoditas ekspornya, ungkap Priyadi.

Sementara itu, Asisten Daerah III Pe, Hurnaini. M.Si yang hadir dan melepas ekspor menyampaikan agar masyarakat agribisnis di  pulau Moro baik petani maupun pelaku usaha dapat membuka cakrawala dan menangkap peluang yang ada.

Bertepatan dengan momen Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, Asisten Daerah III  Pemkab Karimun  Drs.Hurnaini,M.Si  juga mengajak masyarakat Karimun untuk bersama-sama mendorong kinerja ekspor komoditas pertanian, wujudkan Indonesia maju, pungkasnya.

Narasumber :
1. Ali Jamil, Ph. D – Kepala Badan Karantina Pertanian
2. Drs. Hurnaini, M.Si – Asda III Kabupaten Karimun
3. drh. Priyadi – Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I ZXI TB Karimun.

(James)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.