Perdagangan Satwa liar Butuh Penanganan Serius

Karimun, Silabusnews.com – Maraknya pengiriman tumbuhan satwa liar yang dilalukan oleh berbagai komunitas seperti komunitas pecinta burung, reptil, bonsai dan lain sebagainya menjadi tantangan tersendiri di era milenial ini.

Ditambah lagi, perdagangan daring berbagai jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi juga menjadi fokus perhatian karantina
Oleh karena itu, Karantina Pertanian Karimun mengadakan Focus Group Discussion dengan tema “Sinergi
Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan Satwa liar dan Langka di Hotel Aston Karimun, Kamis (13/02).

Priyadi, Kepala Karantina Pertanian Karimun mengungkapkan alasan pentingnya acara ini harus diselenggarakan.Selain untuk menjawab berbagai pertanyaan dari para komunitas bagaimana persyaratan pengiriman tumbuhan dan satwa liar dan langka, acara ini juga sebagai langkah untuk mengantisipasi adanya tindak penyelundupan.

Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Karimun, jumlah pengiriman burung pleci kacamata putih pada tahun
2018 adalah 10.616 ekor, sedangkan pada tahun 2019 jumlahnya menurun di angka 2.961 ekor.

Untuk pengiriman
tumbuhan jumlahnya lebih sedikit daripada pengiriman burung. Pada tahun 2018, akar pasak bumi jumlahnya 37
kg dan pada tahun 2019 menjadi nihil atau nol, terangnya.

Priyadi mengatakan, Karantina Pertanian Karimun mengadakan Focus Group Discussion ini
kita hadirkan narasumber baik dari karantina maupun BKSDA agar pengguna jasa dalam hal ini
komunitas pecinta burung, reptil dan tanaman hias dapat mengetahui secara pasti bagaimana prosedur lalu lintas
tumbuhan dan satwa liar dan langka.

“Selama ini mereka hanya melakukan permohonan ke karantina saja, padahal
pemilik juga harus melengkapi dokumen lain diluar karantina seperti surat angkut tumbuhan dan satwa dalam
negeri (SATS-DN) maupun surat angkut tumbuhan dan satwa luar negeri (SATS-LN),”ungkapnya.

Perlu diketahui bahwa dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan menjelaskan bahwa karantina hewan, ikan dan tumbuhan adalah sistem pencegahan masuk, keluar
tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan organisme pengganggu
tumbuhan karantina serta pengawasan dan/atau pengendalian terhadap keamanan pangan dan mutu pangan,
keamanan pakan dan mutu pakan, produk rekayasa genetik, sumber daya henetik, agensia hayati, jenis asing invasif, tumbuhan dan satwa liar, serta tumbuhan dan satwa langka yang dimasukkan ke dalam, tersebarnya suatu area ke area lain, dan/atau dikeluarkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam tugas fungsi pengawasan lalu lintas khususnya tumbuhan satwa liar dan langka. Priyadi mengatakan tentu saja karantina memerlukan sinergi dari
instansi terkait khususnya BKSDA agar peredaran dan pemanfaatannya terkontrol sehingga keberadaan tumbuhan
dan satwa ini tidak punah akibat perdangan internasional. Hal ini sesuai dengan Convertion on International in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora atau Cites, terangnya.

Menidaklanjuti hal tersebut,
Daniwari Widiyanto, S.Hut, M.Si, Kepala Seksi Peredaran TSL, Sub Direktorat Pemanfaatan Jenis- Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati mengatakan, bahwa pemerintah melalui BKSDA telah melakukan pembatasan peredaran TSL yang selalu diperbaharui setiap tahunnya.

Daniwari Widiyanto menjelaskan klasifikasi appendiks dalam cites yakni appendiks I (terancam punah), appendiks II (belum terancam punah namun perdagangannya harus terkontrol), dan appendiks Ill (jenis-jenis yang diproteksi oleh suatu negara dan negara anggota diharapkan membantu untuk mengontrol terhadap ekspornya).

Setiap klasifikasi ini memiliki perbedaan jenis tumbuhan dan satwa serta tata cara perijinannya. Daniwari sebagai narasumber juga memberikan informasi bagaimana prosedur perijinan pengiriman tumbuhan satwa liar dan langka
agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, jelasnya.

Daniwari Widiyanto yang hadir dalam acara ini mengapresiasi langkah Karantina Pertanian Karimun dalam menjembatani permasalahan dihadapi oleh para komunitas yang ada di Karimun.

Pihaknya dan instansi terkait berharap agar kelestarian flora dan fauna khususnya yang ada di Karimun dapat terjaga dengan baik dan para komunitas dapat mengikuti sebagaimana peraturan yang telah ditetapkan.

“Keanekaragam hayati yang kita punya hanya akan jadi kenangan saja” jelasnya. Saat ini sosialisasi tentang peraturan-peraturan BKSDA dibantu dengan sosial media agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat”, tuturnya.

Untuk itu melalui Focus Group Discussion ini Daniwari Widiyanto, S.Hut, M.Si, berharap akan ada tindak lanjuti sesuai dengan kesepakatan oleh masing-masing instansi terhadap masukan yang diberikan, sehingga akan ada peningkatan signifikan terhadap waktu layanan Karantina terhadap masyarakat, pungkasnya.

( Mes)

revisi iklan dan medsos
revisi iklan dan medsos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.