Persentasi pemilihan tempat shooting film Belang Kaet. Foto: Ilham(Silabusnews)
Silabusnews.com,Kayong Utara – Pembuatan Film Sejarah perjuangan rakyat Kerajaan Simpang(Perang Belang Kaet) yang bertajuk Harmoni dalam Kebhinekaan menjadi topik bahasan oleh para Sejarawan serta penggiat seni dan budaya. Untuk pemantapan dalam kegiatan tersebut dilaksanakan Musyawarah Persentasi Akhir Pra Pelaksanaan bertempat di kediaman Amru Chanwari (Lantai 2) Jalan Utin Tahara Desa Teluk Melano Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, pada Selasa (02/09/2020).
Pada kegiatan tersebut dihadir Amru Chanwari (Serketaris Yayasan Sultan Jamaludin) Isya Fahrudji (Budayawan) Raden Jamrudin (Budayawan) Raden Jamhari (Budayawan) serta Budayawan dan Sejarawan lainnya.
Turut hadir pula Kushariyanto (Sutradara Film Perang Belang Kait) Miftahul Huda (Produser sekaligus Ketua Lembaga simpang Mandiri) dan para Pemain Film Perang Belang Kaet.
Dalam pertemuan itu membahas penilaian dan penetapan Aktor dan Aktris, penetapan Crew, pemaparan pembagian tugas, pembekalan kepada Aktor dan Aktris (Pemain) seta Persentasi Lokasi rencana Shoting.
Dalam kesempatan itu, Kushariyanto (sutradara) menyampaikan harapannya dalam pembuatan Film yang akan digarap.
“Kami berharap agar Bapak Jamani dan Bapak Jamhari selaku Budayawan dapat memberi penilaian yang objektif kepada calon Tokoh Pembawa Cerita dalam film yang akan kita buat ini,” ucap Kushariyanto.
Dikatakan Kushariyanto diantara penilaian yang diharapkan adalah tentang Artikulasi,Tempo,Intonasi,Gesture,Penghayatan Peran dan Improvisasi.
Pada kesempatan yang sama Jamani menambahkan.
“Dalam pembuatan film ini kita dapat menampilkan peran yang meyakinkan, oleh karnanya, para Pemain harus benar – benar menjiwai dengan melakukan olah sukma, olah vokal dan bagai mana menjadi orang lain dalam bermain peran,serta mampu untuk olah Rasa karna film ini bertujuan untuk mengangkat Marwah Rakyat Simpang,”Timpal Jamani.
Tidak ketinggalan, Isya Pahrudji turut bersuara.
“Saya akan menunjukkan lokasi shooting Film agar dapat dipersentasi, adapun rencana lokasi yang akan kami pakai adalah lokasi Bukit Air paoh yang menggambarkan situasi Daerah Matan, selain itu juga akan memudahkan Crew dan Sutradara saat Shooting,”papar Isya.
Lebih lanjut dipaparkan Isya
“Untuk Barak akan kami gunakan Daerah Pasir Mayang, dengan alasan Hutan Daerah Matan tempo dulu ada kesamaan dengan Daerah Pasir Mayang saat ini,” lanjut Isya.
Untuk lokasi Pertempuran dan tempat-tempat pendukung lainnya dimungkinkan akan dicari dekat dengan wilayah Matan, dan bekerjasama dengan berbagai pihak dalam penentuan tempat dan lokasi Shooting.
Miftahul Huda (Ketua Lembaga Simpang Mandiri) menyampaikan agar pembuatan film tersebut jangan dilihat dari nilai biaya yang dianggarkan.
“Tetapi lihatlah nilai sejarah pembuatan film yang akan kita buat, jika kita laksanakan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,maka keuangan yang kita miliki tidak akan cukup, perlu saya tambahkan,ada beberapa tempat yang juga akan kita gunakan,diantaranya adalah Sungai Simpang Matan,Sungai Dekat Dungun,Tepi Sungai Matan,Tenda Pondok di sungai Matan,Hutan Matan(dibawah Pohon Kayu besar) dan Makam Bunga Seringgit,Simpang Keramat serta Dermaga dan Makam Gusti Panji,” tutur Huda.
Huda juga berharap adanya kerjasama yang baik mengingat pembiayaan yang terbatas.
Saya harap agar kita dapat bersama–sama mempertimbangkan Biaya yang kita miliki, karna biaya yang ada hanya sebesar Rp 180.000.000(Seratus Delapan Puluh Juta Rupiah) dengan biaya yang kita miliki ini, saya harap film yang kita buat akan selesai,”imbuhnya Huda
Disamping itu Huda berharap dalam pembuatan Film tersebut dapat mengangkat nilai sejarah.
Amru Chanwari (Pemerhati Budaya dan Sejarah) selaku perwakilan Raja Kerajaan Simpang mengapresiasi Pembuatan film ini walaupun Perencanaannya dilakukan dengan waktu yang cukup singkat.
“Saya juga berharap kegiatan ini dapat di Publis agar dapat diketahui halayak ramai, kami juga berpesan kepada seluruh pendukung Pelaksanaan Pembuatan Film Perang Belang kait ini, sebelumnya Kita luruskan motifasi serta niat kita, jangan di liat upah tetapi lihatlah kenangan yang akan kita buat, karna Film ini akan mengangkat Marwah Masyarakat Simpang dan menjadi nilai yang Luhur,’kata Amru.
Amru juga menggenang adanya seorang pahlawan yang berasal dari Tanah Simpang, yaitu Gusti Hamzah (Pahlawan Nasional) Ke 7 dari 11 orang yang ikut merintis Perjuangan Kemerdekaan di Kalimantan Barat.
“Untuk itu nilai –nilai sejarah harus tetap kita teruskan,mungkin dalam Pembuatan Film Perang Belang Kait ini merupakan salah satu bentuk upaya meneruskan hasil Perjuangan pendahulu kita,”Pungkas amru.
(Ilham)






