Mazyyah Allazina, S.Sos.wanita berdarah melayu, mahasiswi Jurusan Magister Manajemen Pendidikan Islam di STAIN SAR – Kepri (F. Dok)
Bintan, Kepri – Ibu dari seorang putra yang juga merupakan salah satu dari mahasiswi yang mengambil Jurusan Magister Manajemen Pendidikan Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdur Rahman Kepulauan Riau (STAIN SAR – Kepri) Mazyyah Allazina, S.Sos.
Sebagai ibu, yang sering dipanggil Zyyah ini merupakan mahasiswi yang berdarah melayu dengan ibu Palembang terlahir di Kijang, Kecamatan Bintan Timur , 25 Februari 2000, memandang perlunya pendidikan terkait kebudayaan melayu lebih di maksimalkan pada seluruh jenjang sekolah yang ada di Provinsi Kepulauan Riau.
Hal ini disampaikannya mengingat semakin berkurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya melayu pada anak didik di sekolah-sekolah, Senin (25/10/2026)
Zyyah menyampaikan kala suatu pagi ia mendengarkan suara petikan gambus dan alunan syair Melayu terdengar samar dari pengeras suara sebuah sekolah, saat jam ekstrakurikuler berlangsung. Di papan tulis, rumus-rumus matematika dan hukum fisika masih terpampang tajam. Fenomena ini memantik sebuah perdebatan hangat di kalangan pendidik dan pengamat budaya, sejauh mana warisan leluhur harus diberi ruang di tengah kepungan kurikulum modern yang kian menuntut adaptasi teknologi dan globalisasi?
Di tengah arus modernisasi yang begitu cepat, tak sedikit generasi muda Melayu yang mulai asing dengan akar budayanya sendiri. Seni pantun, Gurindam 12, adab kesantunan, hingga kearifan lokal seperti tradisi kelautan dan arsitektur rumah panggung kerap kali hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu yang statis.
Padahal, kebudayaan Melayu bukan sekadar tentang tarian tradisional saat resepsi atau pameran busana tahunan, melainkan sebuah sistem nilai, filsafat hidup, dan etika dasar yang mestinya dimuat dalam bingkai pendidikan.
Mengintegrasikan kebudayaan daerah Melayu ke dalam mata pelajaran modern bukan sekadar menjadikannya muatan lokal terpisah, sebab hal ini menjadi langkah strategis yang makin mendesak. Integrasi budaya Melayu ke dalam mata pelajaran umum menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih konkret dan membumi bagi seluruh para siswa.
Ilustrasi
Sebagai contoh, dalam pelajaran Matematika dan Fisika, konsep simetri, proporsi, dan kekuatan struktur dapat dipelajari langsung dari arsitektur rumah adat Melayu atau rancang bangun perahu tradisional. Prinsip geometri pun dapat diaplikasikan saat mempelajari pola tenun kain songket.
Di bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) seperti Biologi, kekayaan ekosistem pesisir, pengetahuan tentang tanaman obat tradisional Melayu, hingga kearifan lokal dalam menjaga ekosistem mangrove dan laut (seperti sistem pantang-larang) dapat menjadi studi kasus nyata mengenai konservasi lingkungan modern.
Sebagai ibu dari Bahasa Indonesia, nilai Melayu sangat jelas jika diterapkan pada pelajaran Bahasa dan Sastra. Seperti struktur pantun dan gurindam yang bukan sekadar materi hafalan, melainkan sarana melatih kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, serta seni berkomunikasi yang santun namun tajam. Nilai-nilai adab dan ‘berbudi bahasa’ yang sangat dijunjung dalam budaya Melayu menjadi penyeimbang yang krusial di tengah maraknya fenomena tindakan perundungan, intimidasi, atau pelecehan yang dilakukan melalui perangkat digital dan platform daring—seperti media sosial, aplikasi pesan, game online, atau pesan singkat (cyberbullying), dimana hal ini adalah krisis etika di media sosial.
Tujuan utama dari integrasi ini bukanlah menolak kemajuan zaman atau mengisolasi diri dari ilmu pengetahuan global. Sebaliknya, pendekatan ini bertujuan membentuk generasi berpola pikir ‘glokal’, maksudnya berpikir secara global, namun tetap berakar kuat pada nilai lokal (think globally, act locally).
Para anak didik (siswa dan siswi) yang memahami dan bangga akan identitas budayanya cenderung memiliki rasa percaya diri yang tinggi saat berinteraksi di kancah internasional.
“Mereka tidak melihat modernitas sebagai proses meniru budaya luar, melainkan sebagai alat untuk mengemas dan mengenalkan kekayaan budayanya ke dunia luas,” jelasnya.
“Implementasinya tentu memerlukan inovasi dari para pendidik, mulai dari penyusunan modul ajar interaktif, pelatihan guru, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk mendokumentasikan serta mengolah warisan budaya Melayu secara kreatif,” lanjutnya.
“Ketika kebudayaan Melayu diintegrasikan secara harmonis dengan sains, teknologi, dan ilmu sosial modern di sekolah, ruang kelas tidak lagi sekadar tempat menghafal teori, bahkan ruang kelas bertransformasi menjadi laboratorium kehidupan tempat karakter dibentuk, nilai-nilai dirawat, dan masa depan dibangun tanpa kehilangan arah dari mana kita berasal,” pungkasnya.
Patar Sianipar






